Waktu keluarga pelancong di Irlandia sungguh terbatas. Persiapan hanya 3 hari. Paspor diterima, baru membuat rencana perjalanan. Awalnya bingung menentukan apakah di sana akan menyewa mobil atau naik kendaraan umum. Banyak alternatif harus dipilih dalam waktu singkat. Jadinya qual der Wahl, kata orang Jerman.

Alternatif menyewa mobil sendiri, dicoret. Waktunya terlalu mepet untuk mempelajari aturan berlalu lintas di negara baru, kata si Bapak. Belum lagi harus memikirkan tempat parkir mobil di penginapan, membayar tarif jalan tol, dll. Pun nanti capek jika berhari-hari nyetir. Ya sudahlah. Eh, akhir-akhirnya beliau menyesal.

“Kayaknya asyik juga nyetir di sini, yah!”

Yeeeeee…

Kami jarang sekali ikut tur. Tur yang menggunaan pemandu biasanya mahal. Waktu di tiap stop sangat terbatas. Nggak puas buat motret dan eksplor suatu tempat. Pernah ikut naik tur bus ke Amsterdam dan Paris. Tapi cuma naik pas pergi dan pulangnya saja. Di tempat tujuan tetap eksplor sendiri dan tarifnya agak miring. Kali ini demi efektifitas waktu di Irlandia, tur lah kami pilih.

Ada dua tur kami ikuti selama dua hari berturut-turut. Ke Glendalough, Pegunungan Wicklow dan Kilkenny. Glendalough, konon adalah tempat indah untuk day trip. Kedua ke Taman Nasional The Burren dan Cliffs of Moher. Atraksi alam menakjubkan di Irlandia.

Kelebihan ikut tur seperti ini, kita bisa mengunjungi dan melihat banyak tempat dalam waktu singkat. Ada pemandu ynag menerangkan semuanya. Menerangkan sejarahnya, hal-hal menarik yang berhubungan dengan tempat tersebut, dll. Tak perlu bawa-bawa dan baca buku panduan kemana-mana.

Tur pertama, pakai Collins Tour Company. Hujan mengguyur hampir seharian. Kami pakai jaket anti air. Tapi kalau berjam-jam dan deras juga airnya tembus juga ke baju. Payung tak bawa. Untung bisa kering di dijemur di dalam bus diantara stop. Padahal tur hari itu ada trekking sejauh 1 mil di Glendalough. Carola, pemandunya bercerita panjang lebar selama perjalanan. Peserta tur hari itu 40 orang. Ramai juga. Kami duduk di depan. Mendengar orang bercerita plus liukan jalan pegunungan dan mendung mendukung bikin mata sayu. Emak sempat tertidur beberapa kali selama perjalanan. Emak menyarankan Embak untuk menyimak isi tur. Tapi dia baru menangkap sedikit saja dari apa yang disampaikan Carola. Sementara Adik, bosan. Tur seperti ini memang bukan untuk anak kecil.

Glendalough tetap cantik walau berhias hujan. Cerita sejarah dari Carola membuatnya lebih menarik. Kami diturunkan di danau atas, berjalan membelah hutan, menengok danau bawah, mata air dari gletser, reruntuhan gereja dan makam, sebelum menuju tempat parkir sebuah hotel. Dimana kami naik bus kembali, meneruskan perjalanan ke Pegunungan Wicklow.

Di sana, seorang peserta, wanita Asia usia 30-an duduk di belakang kami tak datang hingga 15 menit setelah waktu yang dijanjikan. Padahal Carola sudah wanti-wanti agar kami on time. Di sana jarang ada kendaraan umum. Susah kalau mau kembali ke Dublin. Emak perhatikan, si wanita sedang tidur pulas ketika Carola sedang wanti-wanti tadi. Lagi pula, sepertinya dia juga tak terlalu mengerti bahasa Inggris. Carola dan Pak Sopir menghubungi petugas setempat. Kami meninggalkan si wanita tadi. Beberapa waktu kemudian, mereka mendapat telfon, bahwa beliau ditemukan oleh rombongan tur asal Jerman, dan kemudian bareng mereka ke Dublin. Syukurlah. Kata Carola, hal seperti itu kadang terjadi. Terutama bagi peserta yang tak mengerti bahasa Inggris.

Kilkenny ternyata jadi kejutan buat kami. Tak hanya hujan berhenti saat kami di sana. Kota Kilkenny sungguh charming. Cerita di sana in shaa Allah ditulis buat media ajah, ya. hehehehe.

Besoknya, kami naik bus pagi buta dari Dublin ke Galway. Menggunakan jasa Dublin Tour Company. Dari Galway peserta tur lebih banyak lagi. Empat puluh sembilan orang berbagai bangsa. Sebagian besar anak muda. Kali ini tak perlu jauh-jauh menemukan orang antik. Tepat duduk di sebelah Emak adalah Mbak Muetze, Emak menjulukinya. Wanita muda awal dua puluhan bercelana legging kembang-kembang dan berbaju garis-garis. Pakai muetze, penutup kepala hijau. Dari awal, sekitar pukul 10 pagi kami berangkat dari Galway, Mbak Muetze ini tidur saja kerjanya. Tak tertarik mendengarkan omongan Gary, sopir sekaligus pemandu hari itu.

Hari itu kami banyak berhenti. Untuk mengambil foto. Sekali berhenti 10-15 menit. Dua kali berhenti agak lama. Untuk makan siang di Doolin, 45 menit. Dan di Cliffs of Moher, 1,5 jam. Mbak Muetze tidur atau pura-pura merem sepanjang pagi. Kaki dan sepatunya nangkring di atas bangku bus. Saat saya turun, Emak mendapati kakinya naik ke tempat duduk Emak.

“Waduh, Mbak ini,” pikir Emak.

Perjalanan berlanjut ke desa-desa cantik dan masuk Taman Nasional The Burren. Salah satu pemberhentian adalah sebuah makam megalitikum. Seorang cowok muda jangkung meminta Emak  memotret dirinya di depan makam batu tersebut. Tertipu kali melihat Emak membawa-bawa kamera gede. Dikiranya Emak potograper kampiun. Dia juga punya kamera lumayan gede. Merek sama dengan punya Emak.

Langsung cekrek gak pakai babibu.

“You look! It’s OK or not,” kata Emak

“Hmmm, I look stupid.”

“But you are,” Emak ingin membalas.

“Ow, sorry!” gak mau nawarin motret ulang.

“Thanks anyway.”

Cerita kembali ke Mbak Muetze. Beberapa kali stop sebelum makan siang, Mbak Muetze hanya terlihat keluar sekali. Embak dan Adik juga hanya keluar beberapa kali.

Di Ciliffs of Moher, hujan deras sekali. Semua orang yang melihat batu karang spektakuler di tepi laut pasti basah. Waktu masuk pusat informasi turis untuk menggunakan toilet dan mengeringkan sebagian jaket, baju dan kaos kaki basah, Emak mendapati Mbak Muetze sedang asyik internetan di zona free wifi.

“Wow, ada juga yang bayar puluhan euro buat numpang tidur dan internetan rupanya.”

Sore hari, Mbak Muetze menghabiskan waktu mendengarkan musik lewat Iphone. Matanya memandang kosong ke luar jendela bus. Sesekali kepalanya manggut-manggut mengikuti beat. Entah apa yang didengarnya.

Balik ke Galway di sore hari, kami lewat sebuah desa tepi Teluk Galway, Gary memberi tahu tentang dancing dog. Di depan sebuah rumah ada anjing tua. Setiap kali Gary membunyikan klakson, honk honk honk, si anjing akan berputar-putar cepat sambil mengibaskan ekornya. Beberapa kali Gary membunyikan klakson. Berkali juga si anjing menari riang. Para peserta tur tertawa ramai. Termasuk si Mbak Muetze berhahahaha di sebelah.

“Oh, akhirnya dia temukan hal menarik di tur ini.”

Possibly Related Posts:


Tags:

One Response to “Tur Punya Cerita”

  1. hanari says:

    pengen liat walau hanya dalam poto

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>