Dalam fiksi adalah istilah show untuk mendeskripsikan cerita. Di penulisan perjalanan pun tak jauh berbeda. Unsur show mestinya lebih banyak ditampilkan dalam sebuah artikel. Banyak menggunakan kata sifat dan keterangan dalam sebuah cerita menunjukkan kemalasan penulisnya, demikian kata sebuah artikel. Selain itu, keberadaan sang penulis di tempat yang ditulisnya mesti diragukan. Semua orang bisa mengatakan, “Oh, pemandangan Gunung Bromo itu sangat indah,” tanpa harus datang sendiri ke sana.

Bukan perkara mudah saya rasakan. Dalam menulis memang lebih mudah menggunakan kata sifat dibanding kata kerja. Untuk memperbaiki tulisan, saya menggunakan petunjuk dari Louise Purwin Zobel dalam bukunya The Travel Writer’s Handbook. Zobel membahasnya dalam satu sub bab. Saya sarikan isinya di sini.

Sebuah cerita perjalanan, kata Zobel, idealnya akan bernyanyi dengan kata-kata kerja aktif dan kata benda yang tepat untuk menarik perhatian kelima indra pembacanya. Hiasi dengan kata sifat dan keterangan sesedikit mungkin. Hindari penggunaan klise, ekspresi ucapan populer masa kini, atau apa saja yang terkesan imut. Sebaliknya, gunakan semua trik yang digunakan oleh para penulis fiksi. Anekdot, adegan, dialog, karakterisasi, dan aksi-aksi dramatik. Tulislah dengan kegirangan meluap ala sebuah brosur perjalanan. Namun dengan kerangka kebenaran yang akurasi tepat.

Seorang editor perjalanan di New York Times telah merangkumkan formula untuk satu cerita perjalanan yang bagus :

Kamu harus menggunakan segenap kemampuan menulis agar pembaca tetap mengikuti jalan cerita. ┬áSebuah awal bagai kail; sebuah papan iklan yang menunjukkan tentang apa ceritamu; gambar dalam bentuk kata-kata adalah esensi travel writing; bagaimana penampakannya; baunya, rasanya. Amatir menggunakan kata sifat sebagai ganti gambar kata-kata. Mereka menulis, “Pemandangannya cantik sekali,” tanpa menerangkan pada kita pemandangan apa ynag dilihatnya. Apakah mentari sedang condong ke barat? Apakah ada es di permukaan tanah? Apakah tersisa dedaunan di pepohonan? pemandangan apa maksudnya? Tunjukkan, jangan terangkan!

Jika ada penulis atau editor mengatakan kepadamu, “Show, don’t tell,” kata Zobel, artinya kamu mesti memoles tulisanmu, hilangkan semua kata kerja non aktif, sementara menambahi detail yang berguna.

Saya sendiri mulai berusaha untuk mempraktikkannya. Terutama di paragraf-paragraf awal sebuah cerita untuk menarik perhatian para editor.

Contohnya :

Sungai Rhein mengalir tenang, berkelok-kelok membelah perbukitan. Kapal feri, tanker, kapal pesiar sungai berlayar pelan seperti mengikuti ritme sungai. Perkebunan anggur menghampar, mengikuti kontur lereng barisan bukit. Sisa-sisa kastil kuno berdiri gagah di puncak-puncak bukit berusaha menahan kikisan zaman. Desa-desa kecil dari abad pertengahan sepanjang jalur kereta di Mittelrheintal mengundang siapa saja untuk bertandang. (Cerita tentang kota tua Bacharah)

Angin dingin menyapa rombongan kami. Kami bergegas menuju danau. Tak seluas bayangan saya sebelumnya. Namun suasananya sungguh memanjakan mata. Gunung di latar belakangnya tertutup awan. Bercak-bercak putih menghiasi pegunungan. Seorang lelaki menunggu pelanggan di atas perahunya. Bersiap mengantar mereka yang ingin berkeliling danau dan menyinggahi pulau kecil di tengahnya. Angsa dan bebek berenang, bermain-main di tepian. Bergerombol menyapa rombongan kami. Mungkin banyak pengunjung telah memberi mereka serpihan roti. Seperti yang dilakukan banyak orang di danau-danau Swiss. (Satu Sore di Danau Bled)

Ketika kereta mulai bergerak ke dalam gua, saat itulah lakon di panggung sandirawara alam dimulai. Empat kilometer jauhnya. Dia bergerak pelan di bawah kubah-kubah megah stalagtit. Bagai kumpulan gumpalan batu beragam ukuran. Ada yang menggumpal besar bagai awan bebatuan. Ada yang mengerucut, lancip di bagian bawah. Ada pula yang berbentuk seperti lipatan dan lekukan gorden di dinding gua. Warnanya putih, kelabu, kehijauan, hingga hitam kelam. Sesekali air menetes dari atas. Kadang pula jarak dinding gua sungguh dekat dengan penumpang kereta. Otomatis kami memiringkan badan agar tak terantuk dinding. Sebagian daerah gelap, sebagian diterangi cahaya lampu temaram. Memotret dan merekam video dalam keadaan seperti ini, susah buat kami. Saya merekam setiap adegannya dalam hati dan ingatan. (Permata Alam Postojna)

Possibly Related Posts:


Tags: ,

9 Responses to “Unsur Show Not Tell dalam Travel Writing”

  1. pita says:

    deskriptif..begitu ya mbak Ira? hmmm…menarik. Thanks for sharing ;)

  2. ira says:

    Sama2. Semoga bermanfaat. :)

  3. Ety Abdoel says:

    Saya sedang belajar membuat travel writing , ilmunya berguna sekali. Terimakasih Mba Ira

  4. ira says:

    Sama2, Mbak Ety Abdoel. Terima kasih juga sudha mampir kemari… :)

  5. Novita Ungu says:

    sering-sering ya mba, menulis kiat travel writing, masih harus banyak belajar nich dari mba ira

  6. ira says:

    In shaa Allah, Eva… :) makasih tlah mampir…

  7. Itulah mengapa setelah jalan jalan kita harus langsung nulis mbak ya? agar segala detail yang kita lihat, rasakan bisa kita tunjukkan kepada pembaca. kadang Kalau rasa males melambai lambai, kata sifat ikutan keluar.

    Entah, ini sudah tongkrongan ke berapa kali. masih tetap sestia baca lagi dan lagi. Ben tetep semangat :)

  8. ira says:

    Alhamdulillah, Zulfa. Moga2 tetep iso menbar manfaat. Matur nuwun, ya..

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>