Jika mendengar kata Venesia, dulunya Emak membayangkan satu kota dengan kanal-kanal, orang-orang naik Gondola ditemani pengemudinya yang katanya tak kalah tampan dengan Brad Pitt atau Tom Cruise. Di kelilingi bangunan.bangunan tua indah. Pokoknya Venezia bisa diasosiasikan dengan kata romantis.

Sesampai kami disana, bayangan tersebut tak seratus persen benar. Walau demikian, Venezia adalah wisata yang sangat berharga untuk dikunjungi. Tak secantik bayangan, namun tak rugi pula datang kesana. Banyak hal bisa disaksikan, dipelajari, dinikmati, diambil hikmahnya.

Di minggu kedua bulan Januari, yang konon merupakan bulan terdingin di Italia, keluarga pelancong bergerak dari Bremerhaven menuju Hannover, dimana pesawat pembawa kami ke Venezia mengudara. Mungkin karena kecapekan harus berkendara di malam hari, pagi harinya Embak muntah-muntah. Di pesawat keadaannya makin parah. Dia tak hendak makan, dan agak rewel. Kasihan sekali. Duh, kesenangan mau jalan-jalan langsung pupus melihat keadaannya. Sempat terpikir jika sampai di Venezia keadaan Embak masih demikian, kami mau tinggal di Venezia saja, tak jadi mampir kota lainnya.

Venesia mendung dan sedingin Jerman saat kami sampai disana. Berkabut, jarak pandang hanya beberapa meter. Kami memutuskan beristirahat sejenak sambil menikmati minuman hangat di bandara Venezia yang mungil. Setelah bertanya ke informasi turis, kami pun melesat ke pusat kota. Ada dua macam bus menuju Venezia, yakni ke stasiun kereta dan ke pusat kota. Stasiun kereta utama, Venezia Mestre, terletak di Venezia daratan, agak jauh dari kota tua. Harga tiket bus dari bandara ke pusat kota termasuk murah, hanya dua euro, dengan lama perjalanan sekitar 45 menit. Embak segera tertidur tak lama setelah kami berada dalam bus. Kami melewati laguna-laguna Venezia yang mirip rawa-rawa. Lautnya terlihat dangkal dengan airnya yang keruh. Di kejauhan tampak pulau-pulau kecil baik kosong maupun berpenghuni.

Terkantuk-kantuk dalam bus, kami sampai juga di terminal bus di pusat kota. Hanya berbekal peta kota kecil pinjaman di perpustakaan kota kami menjelajahi kota turis ini. Agak repot juga sebenarnya. Karena kami membawa troli yang meskipun kecil ternyata cukup merepotkan untuk dibawa-bawa di sini. Belum lagi kami membawa buggy (kereta dorong anak) buat Embak. Jadi selama disana, selain berjalan-jalan kami mesti berjuang membawa troli dan buggy naik turun puluhan jembatan Venesia. Ribet, namun karena excited melihat kota ini, kami jabanin juga.

Kami menikmati gedung-gedung tua Venesia. Hampir semua gedung memperlihatkan kesan tua dan rusak dimana-mana. Gedung-gedung ini memang tak diperbaiki untuk mencegah terjadinya penurunan dan kerusakan pondasi yang telah berusia ratusan tahun. Perahu motor pun dilarang melewati kanal-kanal kecil dengan alasan sama.

Konon, karena mahalnya biaya hidup, Venesia mulai ditinggalkan penduduknya. Turis-turis berwajah Asia terlihat dimana-mana. Sebagian besar berasal dari Korea, dari bahasa yang mereka gunakan. Gondola berseliweran di hampir setiap kanal. Toko-toko souvenir dipenuhi topeng-topeng khas Venezia. Saya sering melihat topeng-topeng tersebut di film, dalam adegan pesta topeng.

Embak tidur lama sekali. Tak merasa bahwa kami telah mengangkatnya naik turun jembatan. Tak tahu juga bahwa kami telah menemukan warung kebab halal dan pizzanya enak sekali. Emak memang sangat suka pizza tipis Italia, sementara Bapak suka pizza tebal Amerika. Emak memilih pizza Tonno alias tuna. Rasa tomatnya sangat mendominasi di gigitan pertama. Oregano dan basilikumnya malah kurang dominan. Kata Bapak, kebabnya juga sangat enak. Meski miskin sayuran (beda sama doner kebab Jerman yang banyak sayurannya), kebab di warung ini dicampur keju yang lumer dalam mulut.

Untunglah meski cuaca berkabut, kami tak kedinginan selama di sana. Kami masih bisa menikmatinya. Kami menjelajahi isi kota tua, Melewati distrik S. Croce, S. Polo, Dorsoduro, dan S. Marco. Sampai di Jembatan Accademia, baru kami melihat halter waterbus. Mau beli tiket 24 jam kok nanggung banget karena telah lewat tengah hari dan kami akan langsung ke Roma malam harinya. Kami putuskan untuk berjalan terus di dalam kota tua lewat gereja-gereja tua, museum, rumah-rumah penduduk, menuju San Marco. Kami sempat menyaksikan dua polisi sedang mengejar pencopet, dan sempat ditodong untuk menyumbang oleh orang-orang yang ngakunya dari organisasi bagi penderita AIDS.

Pemandangan di Basilica di San Marco spektakuler. Puluhan ribu burung mengais rejeki di sini. Orang boleh memberi makan merpati. Beberapa orang menjual makanan burung seharga satu euro. Burung-burung merpati disana kelihatan pintar. Mereka langsung mengerubuti pemegang kertas bungkus makanan. Banyak yang sengaja membeli makanan agar dikerubuti merpati dan mengabadikannya dalam foto.

Hampir enam jam kami menjelajahi kota tua Venezia. Kabut kembali menebal. Syifa telah membaik dan kembali ceria. Kaki kami mulai terasa gempor. Keinginan untuk menjelajahi distrik lain pudar. Sebagai gantinya, kami memilih duduk-duduk di stasiun Venezia Santa Lucia sambil mengecek tiket kereta api ke Roma. Perjalanan hari ini melelahkan juga. Capeknya dan kesannya sama-sama tak terlupakan.

Possibly Related Posts:


Tags: , , , ,

4 Responses to “Venesia”

  1. […] Italia di awal tahun 2007. Waktu itu dia masih dibawah bendera Hapag-Lloyd. Untuk rute Hannover – Venezia, kami mendapatkan tiket pp seharga hampir 120 euro untuk tiga […]

  2. […] malam, dan pagi-pagi kami akan sampai di Roma. Karena keretanya berangkat dari stasiun utama Venezia, yakni Venezia Mestre, kesanalah kami segera. Alasan lainnya, karena di stasiun Santa Lucia tak ada […]

  3. […] melihat Duomo alias Katedral Santa Maria del Fiore. Sebelumnya malamnya bertolak kembali menuju Venesia untuk kembali terbang ke […]

  4. Aditya says:

    Jadi mau coba kesana :)

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>