Seorang teman pernah bilang, tak perlu khawatir bakal susah mencari makanan halal di Brussels. Kata-kata halal mudah ditemukan di depan rumah-rumah makan disana, kata beliau waktu itu. Agar mempermudah pencarian kebutuhan pokok ini ketika berada di ibukota Belgia ini, sebelum berangkat Emak sempat mencarinya di inetrnet. Ketemu situs www.restauranthalal.be. Satu situs mengenai daftar resto halal di Belgia, terutama di Brussels. Kami catat beberapa resto menarik.
Merasa sudah memiliki bekal peta kota Brussels di buku panduan, kami tak mengecek lagi lokasi mereka lewat googlemaps. Kami pikir akan mudah menemukan lokasi resto-resto tersebut. Apalagi kemudian kami mendapatkan satu peta kota dari kios informasi turis di stasiun Brussels Midi.
Ternyata dugaan kami salah. Peta di buku panduan wisata Brussels kami memang punya indeks, tapi ternyata tak lengkap. Dia hanya memuat jalan-jalan protokol saja. Lama kami meneliti peta wisata dari kios turis informasi. Namun tak mungkin rasanya menemukan jalan-jalan kecil di kota sebesar Brussels dalam waktu singkat.
Syukurlah kami ketemu seorang ibu warga negara indonesia ketika berbelanja di satu toko asia. Beliau memberitahukan lokasi dua dari daftar catatan resto halal di Avenue de Stalingrad. Kata si ibu, meski restonya menyediakan makanan asia, biasanya pemiliknya orang arab muslim.
Hari pertama kami mampir ke Thai Wok. Sebuah resto makanan Thailand - Vietnam. Terletak di Avenue de Stalingrad nomor 118, dekat dari stasiun Brussels Midi. Kami memilih meja dekat pintu masuk. Ingin meja di luar, namun hari sedang mendung dan berangin. Interiornya didominasi warna coklat dan merah tua. Tabel menu sudah ada di meja masing-masing. Dalam bahasa perancis.
Seorang pramusaji lelaki menghampiri kami. Kami bertanya apakah mereka punya menu berbahasa inggris. Sayangnya tak ada. Dia memanggil satu teman lain yang bisa berkomunikasi dalam bahasa inggris. Pramusaji ini menerangkan, menu utama mereka terdiri dari nasi dan mie. Dikombinasikan dengan masakan vegetarian, daging ayam, daging sapi, ikan dan udang. Waktu kami tanya, satu menu dan ingin tahu dibumbui apa, dia tak bisa menerangkan.
Emak memesan Poulet au curry au lait de coco. Sebab ada kata curry, jadi bisa membayangkan makanannya seperti apa. Poulet artinya ayam. Jadi bayangannya seperti kari ayam. Sedangkan Bapak, memilih jenis makanan sama, namun dari daging sapi, Boeuf curry au lait de coco. Untuk minuman, kami pesan teh hangat saja.
Kami perhatikan, pengunjung resto ini tak terlalu banyak. Namun mereka datang dan pergi. Makanannya dimasak di dekat pengunjung. Tiga orang koki berwajah asia. Bapak yakin, mereka orang China. Sedangkan semua pramusaji adalah lelaki bertampang arab.
Tak lama setelah memesan, dua gelas besar teh hangat datang. Waktu kami cicipi, rasanya manis sekali. Padahal selama di Eropa, biasanya teh disajikan tanpa gula. Atau gulanya disajikan terpisah. Makanan pesanan datang tak lama kemudian. Kari ayam dan nasi disajikan terpisah dalam satu nampan panjang. Warna kedua kari kami agak pucat. Rasanya standar. Bumbunya tak terlalu kuat. Tapi cukup sedap untuk dinikmati. Di dalam kari selain ayam, ada beberapa jenis sayuran seperti parika, bambu muda, terong dan wortel dan zucchini. Taburannya potongan daun bawang dan bawang goreng. Harga kari ayam lebih murah satu euro dibanding daging. Tak ada rasa pedas sama sekali dalam makanan ini. Sehingga harus ditambahkan sambal instan asia yang telah tersedia di resto.
Possibly Related Posts:
- Jajan di Maroko
- Makanan Halal di Swiss
- Makanan Halal di Eropa
- Makanan Halal di Rimini dan San Marino
- Makanan Halal di Antwerpen
Tags: Islam di Eropa, Makanan Halal, Tips & Tricks
[...] (Sambungan dari sini) [...]