Besoknya, kami pilih ke tetangga Thai-Wok. L’Ocean namanya. Alamatnya di Avenue de Stalingrad nomor 112. Kami perhatikan daerah sini juga banyak dihuni warga muslim. Toko-toko kelontong dan bahan makanan pokok. Rumah-rumah makan halal hingga toko-toko roti, memasang label halal besar-besar di depan toko mereka. Padahal di Jerman jarang sekali tempat makan atau toko memajang tulisan sebesar itu.
Resto satu ini menyediaan hidangan laut. Kata ibu yang kami temui kemarin, selain halal, harga makanan di sini relatif murah.
Hari Sabtu itu lumayan cerah. Tak terlalu panas, tapi angin tak berhembus kencang. Di luar resto, masih ada beberapa meja kosong. Tapi Bapak tak mau duduk disana.
Kami masuk ke dalam hendak memesan. Tak bisa bahasa perancis, kami memilih memperhatikan orang-orang sebelum kami. Ternyata sistemnya begini : Orang datang langsung memesan hidangan laut mentah berbumbu yang ada di lemari kaca. Memesan salat dan kentang goreng. Penjual memberi kita nomor. Lalu pembeli duduk menunggu pesanan datang.
Kami memilih dua jenis udang dan tiga jenis ikan. Untuk dibakar. Pembeli bisa pula meminta mereka untuk menggoreng. Kami juga memesan satu porsi salat dan dua porsi kentang goreng. Awalnya deg-degan. Sebab di bagian penjual tak tertera harga ikan/ makanan laut mentah lainnya. Kami khawatir bakal dapat kejutan saat membayar.
Sang penjual memberi kami satu nomor. Meja-meja di lantai bawah sudah penuh. Kami naik ke lantai atas. Ada satu meja kosong untuk berempat, pas untuk kami sekeluarga. Satu pramusaji muda membantu menyiapkan meja.
Tepat di sebelah kiri kami, tiga meja disambung jadi satu untuk menampung satu rombongan orang China. Tampak mereka berpesta menikmati berbagai hidangan laut melimpah di piring-piring besar. Udang bakar, bermacam ikan goreng dan bakar. Mereka makan sambil asyik mengobrol. Agak jauh di sebelah kanan, tampak rombongan keluarga muslim juga menikmati hidangan mereka. Wanita-wanitanya menggunakan jilbab lebar. Dua meja lainnya diisi oleh dua pasang pelanggan.
Si pramusaji berdiri di depan meja panjang berisi piring-piring dan peralatan makan. Juga keranjang-keranjang berisi buah lemon, mayonais serta saus tomat. Di sebelah kirinya ada satu kotak besar. Awalnya kami kira microwave. Ternyata benda tersebut adalah lift khusus makanan. Sehingga si pramusaji tak perlu turun naik mengambil makanan pesanan pelanggan. Jarang sekali kami melihatnya berdiri tenang. Sebab ada saja pelanggan minta dilayani, atau dia mesti membereskan sisa makanan.
Salat pesanan datang terlebih dahulu. Salat berupa campuran nasi, wortel, buncis rebus dan mayonais ini hambar. Mesti ditambah sedikit garam agar lebih bisa dinikmati. Kami memesan dua botol minuman dingin. Rombongan sebelah kiri kami masih heboh makan sambil mengobrol. Beberapa menit kemudian, hidangan utama datang. Dua mangkuk kentang goreng, dua wadah potongan baguette, satu wadah saus warna merah dan satu piring besar udang dan ikan laut bakar. Pramusaji menambah beberapa irisan lemon dan memberikan beberapa wadah kecil saus tomat dan mayonais sebagai teman makan kentang goreng.
Entah sebab kelaparan atau doyan, semua kami habiskan dalam waktu tak lama. Kecuali kentang gorengnya. Beberapa sachet sambal instan dari indonesia menambah nikmat hidangan ini. Dan sebenarnya agak aneh makan ikan bakar berteman roti. Tapi baguette-nya empuk dan enak. Embak doyan sekali udang bakar. Dia habiskan beberapa tusuk. Sementara Emak lebih suka makan ikan. Alhamdulillah puas makan disana.
Kami minta sisa kentang goreng dibungkus. Semuanya habis nyaris 30 euro. Setelah kami perhatikan, yang mahal bukan harga ikannya. Melainkan salat, kentang goreng dan minumannya. Baguette-nya gratis, sudah menjadi satu paket dengan ikan bakar.
Possibly Related Posts:
- Makanan Halal di Rimini dan San Marino
- Makanan Halal di Antwerpen
- Ravintola Habibi, Restauran Halal di Helsinki
- Wisata Kuliner di Brussels (1)
- Rheinlauf, Pertengahan Sungai Rhein Dari Mainz Hingga Köln
Tags: Eropa Barat, Ibukota Eropa, Makanan Halal

[...] (Bersambung) [...]