Festival tahunan berbau Jepang Japan Tag di Dusseldorf  memang identik dengan pesta kostum. Di sini adalah tempat tepat untuk menjajal aneka kostum tokoh manga tanpa harus takut jadi bahan tertawaan. Bahkan jika Anda serius mengenakan suatu kostum, Anda bisa jadi seleb sehari. Menjadi objek foto favorit penonton, diajak foto ratusan hingga ribuan orang tak dikenal. Atau bahkan diwawancarai stasiun televisi. Seperti beberapa artis cosplay yang Emak temui selama festival. Yang entah berdandan ala tokoh manga yang mana.

Menonton festival sebesar Japan Tag memang meninggalkan kesan mendalam. Tahun 2015 ini sudah diselenggrakan untuk keempat belas kalinya. Konon dihadiri lebih dari sejuta orang. Di hari cerah, penonton bakal lebih membludak. Menyaksikan antusiasme penonton sejak dari stasiun Düren saja sudah wow rasanya. Apalagi ketika sampai di stasiun pusat Dusseldorf. Emak heran bin kagum. Begitu besar pengaruh manga bagi warga Jerman. Terutama generasi mudanya. Rasanya kami tidak menginjak bumi Jerman. Melainkan di Shinjuku atau Harajuku.

Akan tetapi, niat kami datang ke Japan Tag memang bukan hanya untuk menikmati pesta kostum ala manga. Pun makanan khas Jepang yang mungkin dijual di festival ini. Toko-toko kelontong di dekat atau di jalur yang ramai dilewati penonton membuka kios-kios atau meja-meja khusus menjual makanan. Sejak pertama datang dan berjalan ke arah Rheinpromenade, Emak sudah lirak-lirik makanan yang dipajang di sana.

Makanan khas Korea

Teokkbokki

Di toko Kim dekat stasiun kereta, Emak sudah mengamati berbagai makanan Korea dan Jepang dikemas dalam wadah-wadah plastik. Hari masih relatif pagi. Kami putuskan langsung ke lokasi pusat acara Japan Tag berlangsung.

Di lokasi acara, warung-warung makan sudah buka lapak sebelum acara resmi dibuka. Yang beli pun sudah antri. Emak melihat okonomiyaki, edamame, burger Jepang, sosis Jepang, mie goreng Jepang. Sewadah edamame dijual 3 euro. Di Jember segitu dah dapat segambreng. hihihi. Namanya juga di festival. Pasti harga makanannya dijual lebih dari harga normal. Emak membeli dua biji roti isi cokelat. Embak sangat suka. Sedang krim cokelatnya terlalu eneg bagi Emak.

Meski hari itu cuaca tak terlalu bersahabat, masih banyak pengunjung antuasias. Semangat kami langsung luntur ketika terterpa hujan deras untuk ketiga kalinya. Badan mulai kedinginan. Serta kelaparan. Mungkin karena kedinginan itu jadi kelaparan. Rombongan kami pun bertolak menuju Immermanstrasse. Kampung Jepangnya Dusseldorf. Jika sedang berada di kota tempat ini jadi jujukan keluarga pelancong. Berbelanja bahan makanan Jepang atau Korea. Kadang Embak beli buku, origami, alat tulis atau alat-alat bento di daerah ini. Tempat menyenangkan deh buat Emak-Emak pada khususnya. hehehe.

Lha dalah, toko-toko seperti Sachiko atau Dae Yang diserbu pembeli. Emak yang mau masuk toko untuk berbelanja, balik kucing menyaksikan antrian pembeli mau membayar. Wuih. Ke Maruyasu di dekatnya, tutup. Seang ada renovasi. Ke toko khusus wrapped onigiri di seberangnya, malas, di sana mihil-mihil. Balik lagi ke Dae Yang. Beli onigiri di sana. Rasa salmon habis. Tinggal tuna. Dua euro (Rp. 30.000,- sebiji).

Masih lapar, kami bergerak ke arah Toko Kim lagi. Masuk toko dahulu. Mencari tahu segar, kehabisan. Di luar, antrian pembeli makanan mulai surut. Kami duduk. Perasaan, tidak lama kami jalan-jalan hari itu. Kok kaki dna punggung dah pegel aja, sih. Umur emang gak bisa boong yaks. hihihihi.

Seorang bapak sedang mengaduk-aduk Tteokbokki di sebuah wajan besar. Duhhh bikin ngiler sajah. Tante Lia memutuskan beli seporsi. Emak ngincip. Pedes tapi sedappp. Emak suruh Embak beli lagi.

Menurut Wikipedia, Tteokbokki merupakan jajanan kakilima khas Korea. Disuka warga lokal mau pun turis manca negara. Sekarang mulai menduani. Termasuk di Indonesia. Bahan utamanya rice cake, eomuk atau fish cake, dibumbui gochujang dan cabe. Kuahnya merah menyala dan agak kental. Rice cake-nya berukuran panjang kira-kira 2 cm. Gendut-Gendut. Fish cakenya dapat jatah dua potong tipis.

Endang gulindang. Embak ajah sampek bilang enak berkali-kali. Gak nyesel deh hari itu nyobaik jajanan khas Korea ynag dibuat oleh orang Korea asli. Moga-moga ada rezeki bisa icip-icip langsung ke Korea, yah. In shaa Allah.

Possibly Related Posts:


Tags: , , , , , , ,

4 Responses to “Wisata Kuliner di Japan Tag”

  1. Emakmbolang says:

    Di Indonesia jajanan kaki lima Jepang dan Kore lagi nge hits. Di mall mall banyak sekali variasinya mbak. Kemarin waktu ke Tp sempat cobain yang mirip nugget gitu yang ditusuk kayak sate khas Korea. Takutnya nggak halal soalnya tulisannya kore. Ternyata ada tulisan Halal. Kalau Tteokbokki belum cobain, ntar kalau jalan jalan coba a….

  2. ira says:

    @Zulfa: Yen nang kene malah masakan Jepang Korea malah akeh sing halal, Zulfa. Cumak jareku rasane rodo kurang2 otentik. :)

  3. Belum pernah nyobain Tteokbokki. Mirip snack Jetzet tapi pake bumbu merah gitu ya.

  4. ira says:

    @Zahra: Jetzet itu yang rasanya gimana ya, Zahra? Aku dah lupa. Kalau Tteokbokki rice cake-nya kenyal. Kalau fish cake-nya kayak dadar telor.

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>