Usai Jelajah Alam Worpswede

Oke, kaki sudah mulai pegal-pegal. Diajak melangkah bolak-balik di Bergstrasse, lalu naik turun jalanan hutan Worpswede. Mari kita kembali ke mobil. Melanjutkan perjalanan dalam kotak kecil bermesin.

Masih banyak tempat di Worpswede yang bisa dijelajahi selain Bergstrasse, Barkenhoff, Grosse Kuntsschau, dan Käseglocke. Ada sebuah jalan lain selain Bergstrasse yang juga ramai turis. Sebab  memiliki beberapa galeri seni dan kerajinan tangan.

Kami berkendara, sedikit keluar pusat desa. Menuju balai kota atau Rathaus Worpswede. Waktu melihatnya sekilas, Emak pikir gedung ini sama sekali tidak mirip balai kota. Malah seperti rumah-rumah khas di peternakan. Dengan atap tinggi terbuat dari ijuk. Atap rumah dari ijuk banyak kita jumpai di daerah Jerman utara. Yakni di Niedersachsen dan Bremen. Keluarga pelancong pun menyaksikan rumah-rumah beratap di Irlandia bagian barat.

Bangunan besar ini berbata merah. Tanpa plester. Di Jerman, termasuk di rumah kami, banyak tembok luar bangunan ditampakkan batu merahnya. Isolasi rumah dipasang di bagian dalam tembok. Di bagian samping, tak hanya tembok, kayu-kayu penyangga tembok juga terlihat.  Tiga orang sedang berjemur sambil duduk-duduk di bangku di depan balai kota.

Tepat di seberang balai kota berdiri sebuah konstruksi bersejarah lainnya, Bötjersche Scheune. Sebuah bekas lumbung padi. Sayangnya sedang tidak dibuka untuk umum. Di luar kompleks balai kota Emak melihat satu hal unik. Sebuah lonceng tinggi disangga balok kayu dan beratap ijuk.

Tempat Rekreasi Asyik di Tepi Sungai Hamme

Lanjut naik mobil lagi. Kali ini agak jauh ke pinggir desa. Menuju Neu-Helgoland. Helgoland merupakan pulau lepas pantai satu-satunya milik Jerman. Neu-Helgoland, sebuah tempat rekreasi. Akan tetapi bukan di pantai. Melainkan di pinggir Sungai Hamme. Tempatnya sangat ramai. Ini spot favorit berolah raga air. Tak heran kalau sedang banyak dikunjungi orang. Cuaca cerah dan hangat penyebabnya. Cuaca seperti ini, bagi kebanyakan warga Jerman, wajib disyukuri dengan berbondong-bondong melakukan aktifitas di luar rumah.

Agak kesusahan kami mendapatkan tempat parkir. Ketika dapat, lokasinya agak jauh dari sungai. Kami sempat jajan kopi dan kue di kafe sejenak di pinggir sungai. Mau jajan makanan hangat, waktu makan siang sudah lewat, dah gak bisa pesan lagi.

Jual perahu karet

Berperahu di Hamme

Kembali memperhatikan sungai dan aktifitas di atasnya, Emak sungguh mupeng. Daerah ini merupakan wilayah sepeda sekaligus wisata air. Sekalian ada tempat kempingnya. Bernama Hammehütte. Rupanya ada persewaan kano dan kayak. Nyewanya di tempat kemping tersebut. Selain naik perahu sewaan, beberapa Emak lihat menggunakan perahu karet hingga yacht mini bermesin.

Emak jadi ingat perahu karet di rumah. Sudah setahunan nganggur. Kami punya dua perahu karet. Pertama dan terakhir dipakai ketika kami berkemah di Luxemburg tahun lalu. Duh, kapan yah, berkesempatan naik perahu karet lagi. Naik perahunya enak. Memompanya saja yang bikin agak males. hehehehe.

Jika malas mendayung sendiri, tersedia pilihan lebih mudah. Sekaligus bernostalgia. Yakni naik perahu tradisional bernama Torfkahnfahrt. Rutenya lumayan panjang. Perahunya digerakkan oleh mesin. Tapi ada layar terkembangnya. Biasanya yang naik berombongan. Satu perahu bisa muat sekitar 20 penumpang.

Zaman dahulu, sebelum transportasi dasar selancar dan semudah sekarang, transportasi sungai memegang peranan sangat penting. Beberapa daerah yang dihubungkan dengan sungai menggunakan transportasi perahu. Untuk mengangkut penumpang dan barang. Mereka menggunakan tenaga angin. Jika angin tidak menguntungkan, perjalanan bisa ditempuh berhari-hari.

Tak jauh dari Neu-Helgoland, kami mampir dua tempat wisata lagi. Tak lama. Hanya sekadar memotret saja. Yang pertama sebuah kincir angin tua. Di jalan menuju Neu-Helgoland, sudah terlihat bayangan kincir angin ini. Sekarang tak difungsikan lagi. Akan tetapi dihari-hari tertentu ada open door buat pengunjung. Dari luar, kincir anginnya tampak sangat terawat. Satu lagi adalah stasiun kereta api Woprswede. Warnanya pinky. Cantik sekali.

Ah, hari itu benar-benar menyenangkan sekaligus rekreasi bagi mata sekaligus jiwa kami. Semoga lain kali bisa berperahu di Sungai Hamme. Walau pun hanya berperahu karet.

Possibly Related Posts:


Tags: , , , , , ,

10 Responses to “Keliling Worpswede”

  1. anotherorion says:

    aku belum pernah e naik perahu karet, disini kalinya kecil2, deket sih sebenernya sama kali progo cuma ya itu, gak tau deh disana ada wahana arung jeramnya enggak

  2. ira says:

    @Mas Priyo: perahu karet kami kecil. Muat dua orang. Malah gak bisa kalau dipakai di sungai yang arusnya deras. :)

  3. mba iraaa liburan alamnya bikin mupeng aja nii… perahu karetnya asik ya di sana, kl disini untuk arung jeram doang..

  4. ira says:

    @Ima: ini liburan sambi-sambi, Ma. Sambi mengunjungi beberapa sahabat lama di Bremen.

  5. Perahu karet yang pernah aku naiki ya saat arung jeram. Tapi kayaknya perahu karet yg di foto beda bentuknya ya

  6. ira says:

    @Zahra: Perahu karet arung jeram biasanya gede ya, Zahra. Muat banyak orang. Yang di foto itu kebanyakan sampan dari plastik dan fiber.

  7. Katerina says:

    Tentram banget liat suasana danaunya. Asri!
    Rame juga ya mbak yang naik kanonya. Hanya untuk anak-anak saja kah?

  8. ira says:

    @Mbak Rien: Buat segala umur, Mbak Rien. Banyak yang berenang juga di sungai ini.

  9. Emakmbolang says:

    Inilah yang kusuka dari Eropa, mereka menjaga kanal kanal air sungai dengan bagus dan Asri. bisa dibuat tempat wisata kayak gini, explore dengan Perahu karet. Kalau di negara kita jutru dijadikan buangan “limbah pabrik” dan identik dengan sampah.

  10. ira says:

    @Zulfa: Onok sing iso dieksplor, cumak aksese isih angel utowo terbatas, yooo

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>